Skip to main content

Posts

”TEKNIK PEMELIHARAAN PENGGEMUKAN KEPITING BAKAU SISTEM KERAMBA BAMBU”

Pemeliharaan dengan menggunakan system karamba yang terbuat dari bahan bambu pada umumnya sudah lama digunakan oleh para petani tambak, selain cara pembuatannya relatif gampang, juga bahan yang di gunakan sangat mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau. Namun disisi lain metode ini terbatas dengan padat tebar yang relatif sedikit, ini disebabkan oleh ruang gerak kepiting yang sempit, sehingga dikhawatirkan kepiting mudah untuk saling memangsa (kanibalisme). Bahan dan peralatan yang digunakan membuat karamba bambu dengan ukuran 2 x 1,5 meter sebagai berikut : 1. Balok (broti) ukuran 5 x 7 x 4 m 18 batang 2. Bambu 15 batang 3. Paku 1,5 inchi 0,8 kg dan 4 inchi 0,5 kg 4. Engsel anti karat sedang, ukuran 0,5 mm 4 buah 5. Kunci gembok 1 set 6. Martil dan parang Pembuatan dilakukan terlebih dahulu membuat rangka karamba yang terbuat dari bahan balok/broti 5 x 7 x 4 meter yang dilanjutkan dengan merakit dinding keramba dari belahan bambu. Kekurangan dengan menggunakan karamba bambu, daya ...

ASPEK POSITIF RETIFIKASI UNCLOS 1982 TERHADAP PERIKANAN INDONESIA

Ratifikasi UNCLOS (United Nations Convension on Law of the Sea) merupakan mileistone bagi negara-negara maritime (coastal states) untuk memanfaatkan kekayaan sumberdaya maritime di wilayah perairannya. Dengan diratifikasinya UNCLOS tersebut, maka Indonesia memiliki luas perairan Zona Ekonomi Ekslusif sekitar 2,7 juta km2. Dengan penambahan luas perairan tersebut, sebenarnya memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan alamnya secara lebih besar lagi. Namun sayangnya potensi dan kekayaan sumberdaya di ZEEI tersebut belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh bangsa Indonesia, bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Kekayaan tersebut dimanfaatkan oleh pihak asing melalui pencurian ikan (ilegal fishing) dan penyalahgunaan izin penangkapan (abuse licensing). Departemen Kelautan dan Perikanan memperkirakan, dari 7000 izin operasi penangkapan ikan, tujuh puluh persennya (70%) merupakan kapal asing. Perkiraan kerugian dari operasi kapal asing ini menurut DKP sudah menc...

KRITERIA PERUNTUKKAN AIR

Kualitas air sangat ditentukan oleh konsentrasi bahan pencemar di dalam air. Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, menggolongkan air berdasarkan peruntukannya menjadi 4 (empat) kelas yaitu : 1. Kelas satu, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 2. Kelas dua, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 3. Kelas tiga, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; 4. Kelas empat, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mensyaratkan mu...

Pencemaran Sungai Akibat Aktivitas Tambang Emas Poboya

Poboya juga telah menyedot banyak orang dari berbagai latar belakang dan asal usul daerah untuk datang mengadu nasib ke wilayah ini, entah itu rakyat biasa, pengusaha, aparat pemerintah, hingga oknum TNI dan Polri. Mereka bukan hanya datang dari wilayah kota Palu, sebagian besar berasal dari propin$si Sulawesi Utara dan Gorontalo. Tak ayal, pos retribusi di pintu masuk yang dikelola dewan Adat saja sudah berhasil mengutip sekitar 150 juta rupiah. Adalah emas, yang menjadi pangkal kehebohan ini, Kilap Emas yang dikandung tanah Poboya telah menjanjikan keuntungan berlipat ganda dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya, kandungan emas Poboya telah diketahui sejak lama, namun model penambangan tradisional dengan cara mendulang saat itu tidak memberikan pengharapan yang berlebihan bagi para pendulang lokal. Geger emas poboya berawal dari masuknya beberapa penambang yang berasal dari luar kota Palu dengan membawa serta tekhnologi dan pengetahuan yang mereka gunakan di bebera...

Proses Pembuatan Karaginan

Proses produksi karaginan pada dasarnya terdiri atas proses penyiapan bahan baku, ekstraksi karaginan dengan menggunakan bahan pengekstrak, pemurnian, pengeringan dan penepungan. Penyiapan bahan baku meliputi proses pencucian rumput laut untuk menghilangkan pasir, garam mineral, dan benda asing yang masih melekat pada rumput laut. Ekstraksi karaginan dilakukan dengan menggunakan air panas atau larutan alkali panas (Food Chemical Codex 1981). Suasana alkalis dapat diperoleh dengan menambahkan larutan basa misalnya larutan NaOH, Ca(OH)2, atau KOH sehingga pH larutan mencapai 8-10. Volume air yang digunakan dalam ekstraksi sebanyak 30 - 40 kali dari berat rumput laut. Ekstraksi biasanya mendekati suhu didih yaitu sekitar 90 – 95 oC selama satu sampai beberapa jam. Penggunaan alkali mempunyai dua fungsi, yaitu membantu ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna dan mempercepat eliminasi 6-sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-anhidro-D-galaktosa sehingga dapat meningkatkan kekuatan gel...

PERUBAHAN MUTU IKAN PASCA PENANGKAPAN

Pelanggan, perusahaan pemrosesan ikan, pejabat pengatur, dan ilmuwan memandang kesegaran dan mutu ikan secara berbeda-beda. Hal tersebut khususnya berlaku bagi makanan hasil laut, yang kesegaran dan mutunya dapat di interpretasikan secara luas. Pemeliharaan mutu baik ikan non budidaya maupun ikan yang dibudidayakan lebih sulit dibandingkan dengan pemeliharaan mutu makanan berdaging lainnya. Berbeda dengan penyediaan produk makanan utama lainnya, produksi makanan hasil laut tidak dapat secara langsung dikendalikan, ditingkatkan mutunya atau diprediksi secara akurat. Industri makanan hasil laut sangat beragam, bergantung pada jenis panen, teknik penangkapan ikan, jenis produk, volume produksi, dan lokasinya. Selain itu, sifat makanan hasil laut membuat produk tersebutrentan terhadap berbagai risiko yang terbawa oleh makanan. Mutu produk perikanan dipengaruhi oleh faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik. Seperti spesies, ukuran, jenis kelamin, komposisi, penanganan telur, keberadaan p...

Konsep Pengindraan jauh dalam Perikanan

Wilayah perairan laut Indonesia memiliki kandungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya hayati (ikan) yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut Komnas Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut (Komnas Kajiskanlaut, 1998), potensi sumberdaya ikan laut di seluruh perairan Indonesia, diduga sebesar 6,26 juta ton per tahun, sementara produksi tahunan ikan laut Indonesia pada tahun 1997 mencapai 3,68 juta ton. Ini berarti tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia baru mencapai 58,80%. Pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia di berbagai wilayah tidak merata. Di beberapa wilayah perairan masih terbuka peluang besar untuk pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah yang lain sudah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing. Hal tersebut dapat disebabkan karena pengelolaan potensi sumberdaya perikanan tidak dikelola secara terpadu. Salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya data dan informasi mengenai potensi sumberdaya perikanan wilayah Indonesia. Kurangny...