Skip to main content

Konsep Pengindraan jauh dalam Perikanan


Wilayah perairan laut Indonesia memiliki kandungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya hayati (ikan) yang berlimpah dan beraneka ragam.
Menurut Komnas Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut (Komnas Kajiskanlaut, 1998), potensi sumberdaya ikan laut di seluruh perairan Indonesia, diduga sebesar 6,26 juta ton per tahun, sementara produksi tahunan ikan laut Indonesia pada tahun 1997 mencapai 3,68 juta ton. Ini berarti tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia baru mencapai 58,80%. Pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia di berbagai wilayah tidak merata. Di beberapa wilayah perairan masih terbuka peluang besar untuk pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah yang lain sudah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing.
Hal tersebut dapat disebabkan karena pengelolaan potensi sumberdaya perikanan tidak dikelola secara terpadu. Salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya data dan informasi mengenai potensi sumberdaya perikanan wilayah Indonesia. Kurangnya data dan informasi menyebabkan potensi perikanan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dan lestari.
Penginderaan jauh (inderaja) kelautan saat ini telah berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi inderaja itu sendiri. Pemanfaatan teknologi inderaja dalam pemanfaatan sumberdaya ikan telah dilakukan di beberapa negara maju seperti Jepang, Australia dan beberapa negara Eropa. Hal ini banyak membantu dalam berbagai penelitian untuk memahami dinamika lingkungan laut, termasuk memahami dinamika sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sebagai salah satu lembaga penelitian pemerintah sedang melakukan kajian mengenai penerapan informasi Zona potensi penangkapan ikan berdasarkan teknologi penginderaan jauh. Teknologi ini diharapkan dapat memberikan dukungan informasi daerah potensi penangkapan ikan secara tepat waktu dan berkesinambungan untuk pengembangan ekonomi nelayan.
Menurut Sutanto (1994), ada empat komponen penting dalam sistem penginderaan jauh adalah (1) sumber tenaga elektromagnetik, (2) atmosfer, (3) interaksi antara tenaga dan objek, (4) sensor Tenaga panas yang dipancarkan dari obyek dapat direkam dengan sensor yang dipasang jauh dari obyeknya. Penginderaan obyek tersebut menggunakan spektrum inframerah termal (Paine, 1981 dalam Sutanto, 1994). Dengan menggunakan satelit maka akan memungkinkan untuk memonitor daerah yang sulit dijangkau dengan metode dan wahana yang lain. Satelit dengan orbit tertentu dapat memonitor seluruh permukaan bumi. Satelit-satelit yang digunakan dalam penginderaan jauh terdiri dari satelit lingkungan, cuaca dan sumberdaya alam.
Satelit NOAA
Merupakan satelit cuaca yang berfungsi mengamati lingkungan dan
cuaca. Satelit ini dimiliki Departemen Perdagangan Amerika Serikat, diluncurkan oleh
National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan dioperasikan oleh National
Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Sekarang di atmosfer Indonesia
melintas setiap hari lima seri NOAA, yaitu NOAA-12, NOAA-14, NOAA-15, NOAA-16 dan
NOAA-17.
Satelit Seastar/SeaWiFS
Sensor SeaWiFS(Sea-Wide Field Sensor) merupakan sensor satelit Seastar. Satelit
ini diluncurkan pada orbit rendah pada tanggal 1 Agustus 1997 dari pesawat Pegasus.
Pembangunan dan pengendalian satelit Seastar dilakukan oleh OSC (Orbital Science
Corporation). Satelit ini mentransmisikan dua jenis data yaitu LAC (Local Area Coverage) dan GAC (Global Area Coverage), masing-masing dengan tingkat real time data 665,4 Kbps dan 2 Mbps. Kedua data di atas ditransmisikan melalui band-S dengan frekuensi 2272.5 MHz.

Posted By : Irmawan Syafitrianto

Popular posts from this blog

Kebun Plastik Bangsa Poros Maritim

Indonesia sebagai poros maritim merupakan cita-cita agung. Keagungannya bersemayan disudut-sudut langit tertinggi. Siapapun yang memandangi langit pasti terkagum-kagum karena langit hanya dapat dipandang dari bawah. Berbeda dengan langit, laut dapat dipandang dari ketinggian. Perbedaan sudut pandang langit dan laut membuat “penikmatnya” memperlakukan laut sebagai sesuatu yang rendahan. Laut tidak lebih diperlakukan sebagai tempat pembuangan akhir. Bahkan ketika dalam pergaulan ada teman yang dianggap tidak berguna maka istilah “ kelautko jadi tude” menjadi sangat familiar terdengar. Ada persamaan antara berkebun tanaman di sebidang tanah dan berkebun plastik di laut biru.  Persamaannya, kedua aktifitas sama-sama akan berakhir di meja makan. Bedanya, memakan buah dan sayuran menyehatkan sedangkan makan ikan yang mengandung plastik sangat berbahaya terhadap kesehatan. Seringkali kita mendengar istilah beras dan telur plastik sedangkan ikan plastik mungkin pertamakalinya diistilahk...

STATUS PERIKANAN KEPITING BAKAU

Dengan informasi pasar kepiting bakau yang semakin meluas maka komoditas tersebut telah memberikan nilai ekonomis dan peningkatan pendapatan bagi petani dan telah membuka peluang bisnis kepiting bakau yang semakin berkembang. Pada awalnya bisnis ini hanya mengandalkan hasil tangkapan untuk ukuran pasar siap jual, kemudian meningkat ke upaya budidaya baik budidaya pembenihan maupun pembesaran. Seperti yang terjadi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina. Oleh karena itu tidak saja kepiting besar yang ditangkap, tetapi ukuran kecilpun menjadi bernilai ekonomis. Akhirnya di beberapa tempat terjadi intensitas penangkapan yang cukup tinggi dan telah dirasakan semakin menurunnya produksi tangkap seperti kasus di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Harga kepiting bertelur penuh yang jauh lebih tinggi mendorong minat petani melakukan budidaya produksi kepiting bertelur. Di kalangan bisnis kepiting bakau usaha ini dinilai merupakan usaha yang paling menguntungkan, d...

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

Sikap Profesionalisme Aparatur negara sangat dibutuhkan dalam melakukan kegiatan pelayanan kepada masyarakat. Integritas yang rendah merupakan celah yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna layanan (customer), sehingga hasil pekerjaan aparatur tidak representatif menggambarkan kondisi yaang sebenarnya. Gratifikasi, suap, korupsi, kolusi dan nepotisme sangat berpotensi terjadi selama kegiatan pelayanan kepada masyarakat (customer). Pimpinan Unit Organisasi pemerintah harus melakukan upaya pencegahan untuk meminimalisir terjadinya suap, gratifikasi, korupsi, kolusi dan nepotisme. Integritas adalah marwah dan martabat bagi kehormatan pegawai. Upaya pengendalian gratifikasi dapat berupa : 1. Peningkatan pemahaman melalui pendidikan dan pelatihan anti korupsi. Selain tiu, Untuk memelihara pemahaman aparatur, maka dibutuhkan sosialisasi secara berkala. 2. Penegakan disiplin. Penegakan pelanggaran kode etik ASN akan dikenakan sanksi atau hukuman Selain sanksi moral, ASN yang melakukan pelangg...