Skip to main content

Posts

Mensejahterakan nelayan, tugas siapa ?

Kebutuhan terhadap akan ikan terus meningkat seiring bertambahnya populasi manusia di berbagai penjuru bumi. Sektor penangkapan selama ini paling berperan terhadap pemehuhan kebutuhan ikan mulai tergeser dan tergantikan oleh sektor budidaya. Alasannya, penurunan stok ikan di alam akibat tangkap lebih dan ketidakpastian produksi penangkapan karena kerusakan habitat dan perubahan iklim global. Pemerintah melalui otoritas kompetennya terus berusaha untuk mengembalikan kelestarian stok ikan di alam seperti : menetapkan kuota hasil tangkapan beberapa spesies tertentu, kuota usaha (misal jumlah hari di laut), pembatasan jumlah kapal berdasarkan pendekatan kewilayahan, penerapan musim penangkapan, dan perbaikan habitat. Ditengah berbagai permasalahan sektor penangkapan, akuakultur tumbuh menjadi raksasa industri pangan. Jika dikelola dengan baik, akuakultur dapat meningkatkan produksi, menyediakan lapangan kerja, inovasi pemuliabiakan dan pelestarian biota, dan meningkatkan taraf hidup ma...

Lalulintas Ikan Layang di Pelabuhan Wani

Ikan layang, ikan berjuta penikmat, harganya murah namun tidak murahan. Kandungan nutrisi ikan layang sangat baik untuk kesehatan, potein ikan mampu mendorong pertumbuhan membran sel manusia, asam amino essensialnya bisa memicu aktifnya hormon-hormon.             Berdasarkan data dari Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu, Volume ikan layang yang dikirim melalui pelabuhan Wani mengalami peningkatan sejak tahun 2015 hingga tahun  2017.  Pada semester pertama tahun 2015, volume pengiriman ikan layang sebesar 445.327 kg, nilai ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan semester pertama tahun 2017, yakni sebesar 1.043.695 Kg.             Jika di negara maju konsumsi makan ikan perkapita pertahun mencapai 80 kg, maka nilai ikan layang tersebut mampu memenuhi kebutuhan nutrisi 26.993 jiwa setiap tahunnya. Di Indo...

Kebun Plastik Bangsa Poros Maritim

Indonesia sebagai poros maritim merupakan cita-cita agung. Keagungannya bersemayan disudut-sudut langit tertinggi. Siapapun yang memandangi langit pasti terkagum-kagum karena langit hanya dapat dipandang dari bawah. Berbeda dengan langit, laut dapat dipandang dari ketinggian. Perbedaan sudut pandang langit dan laut membuat “penikmatnya” memperlakukan laut sebagai sesuatu yang rendahan. Laut tidak lebih diperlakukan sebagai tempat pembuangan akhir. Bahkan ketika dalam pergaulan ada teman yang dianggap tidak berguna maka istilah “ kelautko jadi tude” menjadi sangat familiar terdengar. Ada persamaan antara berkebun tanaman di sebidang tanah dan berkebun plastik di laut biru.  Persamaannya, kedua aktifitas sama-sama akan berakhir di meja makan. Bedanya, memakan buah dan sayuran menyehatkan sedangkan makan ikan yang mengandung plastik sangat berbahaya terhadap kesehatan. Seringkali kita mendengar istilah beras dan telur plastik sedangkan ikan plastik mungkin pertamakalinya diistilahk...

NELAYAN DALAM BINGKAI DEMOKRASI

Tidak banyak yang tahu jika tanggal 6 April adalah hari nelayan Indonesia. Harinya para pejuang pangan di negeri bahari, negeri yang memiliki sumberdaya ikan melimpah, negeri yang lautnya lebih luas dibanding daratan, negeri yang indah pemandangan  bawah lautnya tak dapat sekedar diucapkan. Nelayan merupakan istilah bagi orang yang memiliki aktifitas menangkap ikan atau biota perairan. Masyarakat nelayan dapat diartikan sebagai masyarakat yang hidup, tumbuh serta berkembang di daerah pesisir. Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) pada tahun 2011 penduduk miskin di Indonesia mencapai 31, 02 juta orang dan 25,14 % (7,87 juta) dari jumlah tersebut merupakan nelayan. Nelayan seakan-akan  menjadi tamu dilautnya sendiri, dan siapa tuan rumah yang sebenarnya ?? Beberapa permasalah pada nelayan antaralain : 1) ketidakpastian usaha karena ketergantungan yang tinggi terhadap musim, 2) Rendahnya tingkat pendidikan, 3 ) degradasi lingkungan, 4) kebanyakan nelayan berpola hid...

“Melirik Kepiting Bakau di Sulawesi Tengah”

 Kepiting bakau ( Scylla sp.) merupakan salah satu sumberdaya hayati perairan bernilai ekonomis penting memiliki habitat di wilayah estuaria dan mangrove. Kepiting bakau diminati masyarakat baik di dalam maupun luar negeri karena rasa dagingnya yang lezat dan bernilai gizi tinggi . Potensi kepiting bakau ( Scylla sp) di Sulawesi Tengah cukup melimpah. Sulawesi tengah merupakan salahsatu provinsi penghasil kepiting bakau di Indonesia. Kepiting bakau ( Scylla sp) di Sulawesi Tengah berasal dari kabupaten Morowali, Banggai, Tojo una una, Parigi-Moutong, dan Kabupaten Donggala. Selama 3 tahun terakhir (2011-2013)   terjadi peningkatan yang sangat signifikan terhadap frekuensi pengiriman kepiting bakau yang dilalulintaskan melalui bandar udara mutiara Palu yakni 723 kali pengiriman pada tahun 2011 menjadi 2 635 kali pengiriman pada tahun 2013 (SKIPM Palu, 2013). Pada tahun 2013, Frekuensi lalulintas domestik keluar komoditas perikanan yang melalui bandar udara mutiar...

IKAN SIDAT DI KABUPATEN POSO, SULAWESI TENGAH

Perairan Sulawesi merupakan daerah potensial distribusi sidat tropis, dan di Muara Sungai Poso minimal ditemukan lima spesies ikan sidat, yaitu A. marmorata, A. bicolor pasific, A. celebensis, A. borneensis, dan A. interioris (Sugeha, 2005). Perairan Teluk Tomini, yang berada di muka Muara Poso, berdasarkan tingkat kelimpahan larvanya (Leptocephale), memiliki kelimpahan tertinggi dibanding perairan lainnya (Wouthuyzen, et al., 2003). Tingginya potensi larva sidat yang bermigrasi ditunjukkan dengan tingkat rekrutmen yang mencapai 260-1069 ekor/lima detik di muara Sungai Poso (Haryuni et al., 2002) Berdasarkan data tersebut estimasi rekruitmen elver yang memasuki Sungai Poso dapat mencapai 187.200 - 769.920 ekor per malam. Perairan Danau dan Sungai Poso telah lama diketahui merupakan daerah penangkapan sidat. Estimasi produksi sidat pada tahun 1970-an minimal mencapai 22 ton per tahun, yang didasarkan pada jumlah alat tangkap terpasang di Sungai Poso yang mencapai 20 - 25 uni...

Ikan Sidat Tembus Pasar Asia Timur

Laporan Wartawan Kompas Haryo Damardono KARAWANG, KOMPAS- Direktorat Perikanan Budidaya Departemen Kelautan  dan Perikanan, untuk pertama kalinya mengekspor 30 ton ikan sidat  atau anguilla sp, menuju negara-negara di Asia Timur, yakni Taiwan,  Korea Selatan, dan Jepang. Ekspor perdana tersebut dilepas dari Tambak Pandu di Desa Pusakajaya  Utara, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, oleh Menteri Kelautan dan  Perikanan Freddy Numberi dan Wakil Gubernur Jawa Barat Wagub Jabar  Nu'man A.Hakim, Senin (27/8). "Kami membutuhkan waktu dua tahun, untuk menemukan formula tepat bagi pembesaran ikan sidat. Ternyata, ikan ini tumbuh baik pada suhu 29-31  derajat Celsius, dengan tingkat salinitas lima per mil," kata  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya DKP, Made L Nurjana. Made mengatakan karena teknologi pembesaran ikan sidat telah dikuasai, maka secepatnya DKP akan mengembangkan ikan sidat di beberapa daerah. "Telah ada dia kawasan yang dibidik investor...