Skip to main content

Mensejahterakan nelayan, tugas siapa ?


Kebutuhan terhadap akan ikan terus meningkat seiring bertambahnya populasi manusia di berbagai penjuru bumi. Sektor penangkapan selama ini paling berperan terhadap pemehuhan kebutuhan ikan mulai tergeser dan tergantikan oleh sektor budidaya. Alasannya, penurunan stok ikan di alam akibat tangkap lebih dan ketidakpastian produksi penangkapan karena kerusakan habitat dan perubahan iklim global. Pemerintah melalui otoritas kompetennya terus berusaha untuk mengembalikan kelestarian stok ikan di alam seperti : menetapkan kuota hasil tangkapan beberapa spesies tertentu, kuota usaha (misal jumlah hari di laut), pembatasan jumlah kapal berdasarkan pendekatan kewilayahan, penerapan musim penangkapan, dan perbaikan habitat.

Ditengah berbagai permasalahan sektor penangkapan, akuakultur tumbuh menjadi raksasa industri pangan. Jika dikelola dengan baik, akuakultur dapat meningkatkan produksi, menyediakan lapangan kerja, inovasi pemuliabiakan dan pelestarian biota, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Jika pengelolaanya buruk, akuakultur menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan dan menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial ekonomi. Akuakultur sebagai peluang yang keberkelanjutannya merupakan suatu keharusan. Keberlanjutan akuakultur mencakup 3 aspek penting, yakni : ekologi (ramah lingkungan), sosial (mengurangi kesenjangan), dan berlanjut secara ekonomi (profitable).

Konversi lahan mangrove untuk kebutuhan budidaya menyebabkan hilangnya habitat alami dan menurunnya keragaman fauna. Menurut data dari menteri kehutanan tahun 2013, luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 3,7 juta hektar yang merupakan terluas di Asia bahkan di dunia. Selain alihfungsi lahan, buangan bahan organik sisa pakan dan metabolik kultivan pada kegiatan akuakulur dapat mengubah komposisi tanah didasar perairan sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan detrivor (mikroba pengurai), akibatnya, terjadi perubahan terhadap rantai makanan serta aliran energi. Penurunan kualitas dan kuantitas hutan mangrove mengakibatkan menurunnya jumlah tangkapan nelayan dan abrasi.

Dulu, isu maritim dan perikanan biasanya mendapat porsi terkecil dalam pemberitaan media massa, tentunya kalah populer dengan isu sengketa politik, prostitusi, terorisme, selebritis, global warming, pencemaran, dan masih banyak lagi. Porsi pemberitaan nelayan kini jauh lebih besar semenjak Kehadiran menteri wanita yang tidak tamat Sekolah Menengah Umum pada kabinet kerja Era presiden Joko Widodo. Susi pudjiastuti, menteri kontroversi segudang prestasi itu membuat gundah teroris pelaku Illegal, Unreported dan Unregulated (IUU) Fishing.

 Nelayan, profesi yang identik dengan kemiskinan (the poorest of the poor). Ironis memang, miskin ditengah sumberdaya yang kaya. Sharp et al (1996) mengungkapkan bahwa kemiskinan pada nelayan dipengaruhi oleh tiga faktor : Pertama, Secara mikro kemiskinan muncul karena ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya, yang miskin memiliki akses terbatas terhadap sumberdaya. Kedua, perbedaan kualitas sumber daya manusia. Ketiga, Kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal. Melihat kondisi saat ini, maka lebih pantas untuk mengatakan bahwa kemiskinan nelayan disebabkan oleh ketidakramahan manusia dalam mengelola lingkungan hidup sumberdaya ikan.

Sebagai contoh : Reklamasi, penggunaan bom dan bahan kimia berbahaya,  alat tangkap yang tidak selektif, aktifitas manusia yang mencemari laut, dan masih banyak lagi aktifitas lainnya yang sebenarnya nyata dapat memiskinkan nelayan. 

Sebagian orang berpendapat bahwa kemiskinan nelayan disebabkan karena ketidakberpihakan pemerintah terhadap kepentingan nelayan, itu pendapat yang kurang relevan dengan kondisi saat ini. Pemerintah telah berupaya memberikan perhatian untuk nelayan dan pembudidaya ikan, misalnya : bantuan kapal, fasilitas budidaya ikan, bantuan bibit ikan, layanan karantina ikan modern terpercaya, bantuan permodalan, kemudahan pengurusan perizinan, beasiswa untuk anak nelayan, dan berbagai jenis pelatihan untuk peningkatan keterampilan.

Popular posts from this blog

Kebun Plastik Bangsa Poros Maritim

Indonesia sebagai poros maritim merupakan cita-cita agung. Keagungannya bersemayan disudut-sudut langit tertinggi. Siapapun yang memandangi langit pasti terkagum-kagum karena langit hanya dapat dipandang dari bawah. Berbeda dengan langit, laut dapat dipandang dari ketinggian. Perbedaan sudut pandang langit dan laut membuat “penikmatnya” memperlakukan laut sebagai sesuatu yang rendahan. Laut tidak lebih diperlakukan sebagai tempat pembuangan akhir. Bahkan ketika dalam pergaulan ada teman yang dianggap tidak berguna maka istilah “ kelautko jadi tude” menjadi sangat familiar terdengar. Ada persamaan antara berkebun tanaman di sebidang tanah dan berkebun plastik di laut biru.  Persamaannya, kedua aktifitas sama-sama akan berakhir di meja makan. Bedanya, memakan buah dan sayuran menyehatkan sedangkan makan ikan yang mengandung plastik sangat berbahaya terhadap kesehatan. Seringkali kita mendengar istilah beras dan telur plastik sedangkan ikan plastik mungkin pertamakalinya diistilahk...

STATUS PERIKANAN KEPITING BAKAU

Dengan informasi pasar kepiting bakau yang semakin meluas maka komoditas tersebut telah memberikan nilai ekonomis dan peningkatan pendapatan bagi petani dan telah membuka peluang bisnis kepiting bakau yang semakin berkembang. Pada awalnya bisnis ini hanya mengandalkan hasil tangkapan untuk ukuran pasar siap jual, kemudian meningkat ke upaya budidaya baik budidaya pembenihan maupun pembesaran. Seperti yang terjadi di beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina. Oleh karena itu tidak saja kepiting besar yang ditangkap, tetapi ukuran kecilpun menjadi bernilai ekonomis. Akhirnya di beberapa tempat terjadi intensitas penangkapan yang cukup tinggi dan telah dirasakan semakin menurunnya produksi tangkap seperti kasus di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Harga kepiting bertelur penuh yang jauh lebih tinggi mendorong minat petani melakukan budidaya produksi kepiting bertelur. Di kalangan bisnis kepiting bakau usaha ini dinilai merupakan usaha yang paling menguntungkan, d...

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI

Sikap Profesionalisme Aparatur negara sangat dibutuhkan dalam melakukan kegiatan pelayanan kepada masyarakat. Integritas yang rendah merupakan celah yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna layanan (customer), sehingga hasil pekerjaan aparatur tidak representatif menggambarkan kondisi yaang sebenarnya. Gratifikasi, suap, korupsi, kolusi dan nepotisme sangat berpotensi terjadi selama kegiatan pelayanan kepada masyarakat (customer). Pimpinan Unit Organisasi pemerintah harus melakukan upaya pencegahan untuk meminimalisir terjadinya suap, gratifikasi, korupsi, kolusi dan nepotisme. Integritas adalah marwah dan martabat bagi kehormatan pegawai. Upaya pengendalian gratifikasi dapat berupa : 1. Peningkatan pemahaman melalui pendidikan dan pelatihan anti korupsi. Selain tiu, Untuk memelihara pemahaman aparatur, maka dibutuhkan sosialisasi secara berkala. 2. Penegakan disiplin. Penegakan pelanggaran kode etik ASN akan dikenakan sanksi atau hukuman Selain sanksi moral, ASN yang melakukan pelangg...