Tentang sidat di Sulawesi Tengah,
yang menarik perhatian adalah distribusi perdagangan benih. Data Stasiun KIPM
Kelas I Palu selama periode Mei tahun 2013 hingga Desember 2016 menunjukkabn 3
(tiga) kabupaten penghasil benih sidat diantaranya
: Kabupaten Parigi (950 Kg), Kabupaten Buol (830 Kg), Kabupaten Poso (653 Kg),
data tersebut direkapitulasi berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) yang
diterbitkan dinas perikanan setempat. Kabupaten Parigi dan Poso menunjukkan
adanya trend penurunan pengiriman dari tahun 2013 hingga 2016, sedangkan
Kabupaten Buol trend volumenya cenderung meningkat. Jika ditinjau dari aspek
keberlajutan, perdagangan bebas benih sidat sangat tidak direkomendasikan. Akan
lebih bijak jika benih sidat dibudidayakan hingga ukuran konsumsi dan
diperjualbelikan, selain lebih menguntungkan, kondisi tersebut juga dapat
meningkatkan lapangan kerja.
Jumlah volume (kg) pengiriman
benih sidat melalui Bandar udara Palu pada tahun 2013 hingga 2016 mencapai
2.247 kg (SKIPM Palu, data tidak dipublikasikan). Jika harga jual terendah
benih sidat di luar negeri mencapai 70 juta, maka keseluruhan nilai rupiahnya
diperkirakan mencapai paling sedikit Rp 171.290.000.000, fantastis. Jika dana desa
tahun 2017 mencapai 720 juta perdesa, maka maka nilai benih sidat mendanai 237
desa.
Faktor penyakit merupakan salahsatu penyebab kegagalan
produksi sidat. Perdangan internasional dan lalulintas udara terhadap sidat
merupakan salah satu faktor penyebab penyebaran penyakit (Arai, 2016). Sebagai
contoh, kematian massal pada kolam budidaya _Anguilla japonica_ oleh Eel Virus
European (EVE), merupakan dampak dari impor glass eels oleh Eropa (Haenan
et.al., 2009). Selain itu, di Eropa, penyebaran endoparasit nematoda Anguillicola crassus menyebabkan
tingginya mortalitas pada sidat (Anguilla
anguilla) yang diimpor dari Jepang untuk tujuan penelitian (Szekely et.al.,
2009). Tugas Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil
Perikanan perwakilan Palu untuk menjamin kesehatan, mutu dan keamanan pangan
ikan sidat yang dilalulintaskan melalui bandar udara Palu. Pengelolaan sidat
merupakan tanjungjawab bersama, pendekatan pemanfaatannya harus berdasarkan
prinsip-prinsip keberlanjutan dan kelestarian