Skip to main content

Posts

PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT PADA ERA OTONOMI DAERAH

Dengan hadirnya otonomi daerah tahun 1999, Indonesia telah mengalami perubahan yang amat besar dalam sistem hukumnya. Pengelolaan pesisir dan sumberdaya alam lainnya telah berganti dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan bidang legislatif dianggap memiliki peran lebih besar dalam menyusun dan mengawasi peraturan perundang-undangan. Pengelolaan sumberdaya pesisir juga mendapat perhatian lebih besar sejalan dengan dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Sejalan dengan era otonomi, sejak tahun 2001 Pemda mempunyai kewenangan yang jelas dalam mengelola sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil secara bertanggungjawab sesuai Pasal 10 UU No. 22/99. Namun kapasitas Pemda untuk mengelola potensi sumberdaya tersebut masih relatif terbatas, khususnya pembangunan kelautan non-perikanan. Disisi lain sumberdaya kelautan tersebut dimanfaatkan berbagai pihak secara tidak bertanggung jawab (intruders) seperti destructive fishing, pencurian ikan di laut, serta reklamasi pantai yang ...

Kondisi Lingkungan yang Mempengaruhi Budidaya Rumput Laut

Suhu Suhu lingkungan berperan penting dalam proses fotosintesa, dimana semakin tinggi intensitas matahari dan semakin optimum kondisi temperatur, maka akan semakin nyata hasil fotosintesanya (Lee, et al. 1999). Kecukupan sinar matahari sangat menentukan kecepatan rumput laut untuk memenuhi kebutuhan nutrien seperti karbon (C), nitrogen (N) dan posfor (P) untuk pertumbuhan dan pembelahan selnya. Rumput laut memiliki toleransi terhadap kisaran suhu yang spesifik karena adanya enzim, dan akan tumbuh subur pada daerah yang sesuai dengan suhu di laut yaitu pada kisaran suhu 20 - 30°C (Luning, 1990). Menurut Lee, et al. (1999), bahwa suhu yang dibutuhkan oleh beberapa rumput laut berbeda satu sama lain, tetapi secara umum suhu yang dibutuhkan oleh rumput laut untuk pertumbuhan berkisar antara 20 - 30°C. Menurut Kadi dan Atmadja (1988), bahwa suhu dapat mempengaruhi perkembangan reproduksi beberapa jenis alga, misalnya perkembangan gamet Gigartina scicularis, akan terbentuk pada suhu antara...

Taksonomi Kepiting Bakau

Kepiting bakau atau dalam bahasa Inggeris dikenal dengan “Mangrove crab” atau “Mud crab” diklasifikasikan oleh stephenson and Campbell (1960), Motoh (1977), Warner (1977), Moosa (1980) dan Keenan et. al. (1998) sebagai berikut : Class : Crustacea Ordo : Decaphoda Familia : Fortunidae Genus : Scylla ( De Haan, 1833) Species: Seylla serrata (Forskal, 1775), Scylla tranquiberica (Fabricius 1798), Scylla paramamosain (Estampador, 1949) dan Scylla olivacea (Herbst, 1796). Krustasea merupakan hewan berkulit keras sehingga untuk pertumbuhannya melalui proses ganti kulit atau dikenal dengan ‘moulting’. Ordo decaphoda ditandai dengan terdapatnya lima pasang kaki yang pada kepiting bakau pasangan kaki pertama berperan sebagai alat penangkap makanan yang disebut capit dan pasangan kaki yang terakhir (kelima) bermodifikasi menjadi bentuk kipas (pipih) yang berfungsi sebagai kaki renang. Genus Scylla ditandai dengan bentuk karapas yang oval bagi...

PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERAIRAN WADUK SECARA TERPADU

Perencanaan pengelolaan perairan waduk secara terpadu merupakan salah satu alternatif bentuk pengelolaan yang diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan di waduk tersebut agar tercapai pemanfaatan sumberdaya perairan waduk secara optimum dan berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya. Ilyas dan Budihardjo (1995), mengemukaan bahwa bagi suatu perencanaan terpadu, sangat primer perlu difahami akan proses dan interaksi alami yang berlangsung, potensi yang tersedia, interaksi antara berbagai kepentingan, agar tidak menimbulkan kompetisi dalam pemanfaatan, yang mengakibatkan pada benturan yang menjurus pada tidak lestarinya sumberdaya dan menurunnya kondisi sosial ekonomi, tiadak berlanjutnya pembangunan. Menurut Krismono dan A. Krismono (1998), untuk menjaga kelestarian sumberdaya perairan dan kesinambungan usaha perikanan, maka perlu diperhatikan dan dipelajari beberapa hal, antara lain : 1. Jenis perairan, sehingga diketahui pol...

SUMBERDAYA YANG DAPAT DI PERBAHARUI : IKAN DAN SPECIES LAINNYA

Sumber-sumber yang dapat diperbaharui merupakan sumber-sumber dimana stok dapat diperbaharui. Itu mudah untuk memikirkan sumber-usmber yang dapat diperbaharui sebagai sesuatu yang abadi. Bila ini secara otomatis menjadi kasus. Kita dapat memastikan diri kita bahwa pasar akhirnya akan membuat transisi dari sumber yang dapat dihapus ke sumber yang dapat diperbaharui. Walaupun ini merupakan pandangan yang sederhana! Beberapa sumber yang dapat diperbaharui termasuk didalamnnya populasi yang hidup baik tanaman maupun binatang juga merupakan sesuatu yang terbuang-buang bila tidak dikelola dengan efektif. Pertumbuhan dan penurunan populasi ini pada umumnya bergantung pada ukuran populasi akibat dari aktivitas manusia, populasi tersebut digambarkan melampaui ambang batas yang kritis ketika species berkembang lebih luas. Pertumbuhan maupun perluasan sekalipun penting bukan merupakan isu-isu manajemen sumber yang dapat diperbaharui. Bila kebijakan publik dapat menfokuskan pa...

Biologi dan Ekologi Rumput Laut

Rumput laut merupakan nama komoditi dalam perdagangan nasional untuk jenis alga dan bukan terjemahan dari ”seagrass” atau nama lokalnya padang lamun. Rumput laut tergolong tanaman yang berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati tetapi hanya mempunyai batang yang disebut thallus. Rumput laut hidup di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainnya (Rorrer, et al. 2004; Lee, et al. 1999). Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-faktor ekologis serta jenis substrat dasarnya. Untuk pertumbuhannya, rumput laut mengambil nutrisi dari lingkungan sekitarnya secara difusi melalui dinding thallusnya. Perkembangbiakannya dilakukan dua cara, yaitu secara kawin antara gamet jantan dan gamet betina (generatif) serta secara tidak kawin dengan melalui vegetatif, konjugatif dan persporaan (Ditjenkan Budidaya, 2005). Struktur anatomi thallus tiap jenis rumput laut...

SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER UNTUK PENGEMBANGAN PERIKANAN DAN KELAUTAN INDONESIA

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia mempunyai wilayah perairan laut yang sangat luas (hampir 80% dari luas wilayah) dengan kandungan potensi sumberdaya perikanan yang beragam dan berlimpah (6.18 juta ton/tahun). Potensi sumberdaya perikanan tersebut sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun demikian sampai saat ini potensi tersebut belum mendapat perhatian yang memadai Oleh karena itu suatu sistem informasi yang mendasar dan mencakup aspek perencanaan dalam pengembangan usaha pemanfaatan sumberdaya perikanan sangat diperlukan sebagai acuan pertimbangan dalam pengelolaan, pemanfaaatan dan pengembangan perikanan di perairan Indonesia sehingga didapatkan suatu pola pengembangan usaha pemanfaatan sumberdaya perikanan yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat. Karena keunggulannya, komputer dipakai sebagai sarana penunjang utama untuk mengimplementasikan suatu sistem informasi. Dengan diketahuinya nilai potensi sumberdaya yan...